Minggu, 27 Maret 2022
Jurnal Refleksi Minggu ke-16 Calon Guru Penggerak
Eksplorasi Konsep - Coaching Model TIRTA
- Goal ⟮Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini
- Reality ⟮Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee.
- Options ⟮Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.
- Will ⟮Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.
- Apa rencana pertemuan ini?
- Apa tujuannya?
- Apa tujuan dari pertemuan ini?
- Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?
- Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?
- Kesempatan apa yang kamu miliki sekarang?
- Dari skala 1 hingga 10, dimana kamu sekarang dalam pencapaian tujuan kamu?
- Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan
- Peluang/kemungkinan apa yang bisa kamu ambil?
- Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi kamu dalam meraih tujuan?
- Apa solusinya?
- Apa rencana kamu dalam mencapai tujuan?
- Adakah prioritas?
- Apa strategi untuk itu?
- Bagaimana jangka waktunya?
- Apa ukuran keberhasilan rencana aksi kamu?
- Bagaimana cara kamu mengantisipasi gangguan?
- Apa komitmen kamu terhadap rencana aksi?
- Siapa dan apa yang dapat membantu kamu dalam menjaga komitmen?
- Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?
Sabtu, 19 Maret 2022
Jurnal Refleksi Minggu ke-15 Calon Guru Penggerak
19 Maret 2022
Minggu ini adalah minggu ke-15 dalam Program Pendidikan Guru Penggerak. Minggu ini adalah tahap akhir pembelajaran Modul 2.2 dan awal pembelajaran modul 2.3.
Pada Minggu ini, kegiatan pembelajaran pada modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) memasuki tahap akhir. Saya mengikuti kegiatan Elaborasi Pemahaman bersama instruktur, narasumber, dan sesama CGP. Saya juga membuat Koneksi Antar Materi dan rencana Aksi Nyata. Koneksi antar materi yang saya buat berupa artikel yang menggambarkan pemahaman pada PSE dan kaitan antara PSE dan pembelajaran berdiferensiasi. Pada rencana aksi nyata, saya telah membuat RPP yang terintegrasi dengan pembelajaran berdiferensiasi dan PSE. Rencananya, RPP ini akan diterapkan pada pembelajaran di kelas pada aksi nyata minggu ini dan minggu ke-4 bulan maret 2022. Dalam elaborasi pemahaman, saya memperoleh tambahan informasi dan contoh-contoh yang menguatkan pemahaman pada PSE. Ketika membuat koneksi antar materi, saya membaca kembali materi PSE, mencermati video, tugas ruang kolaborasi, dan RPP yang telah saya buat, sehingga memperoleh gambaran utuh mengenai PSE dan kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran Modul 2.3 Coaching dimulai dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kasus yang ditemui di sekolah, harapan pada diri, pada siswa, serta kegiatan, materi, dan hasil yag diinginkan. Saya menjawab pertanyaan sesuai dengan pemahaman dan pengalaman saya ketika menghadapi siswa.
Penerapan Kompetensi Sosial dan Emosional dalam pembelajaran di kelas merupakan hal baru bagi saya, meskipun untuk saya pribadi, sesekali pernah melakukan teknik STOP untuk meningkatkan kesadaran penuh. Dalam merencanakan aksi nyata di kelas, awalnya saya merasa bingung akan menerapkan KSE yang mana. Untuk menghadapi kebingungan tersebut, saya mengikuti elaborasi pemahaman, membaca beberapa contoh penerapan KSE di kelas, dan berdiskusi dengan rekan CGP. Hal-hal tersebut membuat saya merasa lebih siap, tidak bingung lagi untuk menerapkan KSE di kelas. Saya antusias ketika mengikuti alur pembelajaran di modul PSE dan bersemangat untuk menerapkan KSE dalam pembelajaran di kelas. Modul 2.3 Coaching merupakan hal menarik bagi saya, dan saya akan mempelajarinya dengan baik, memanfaatkan berbagai media yang ada.
Pembelajaran minggu ini membuat saya lebih memahami PSE. Pengalaman dari instruktur yang dibagikan kepada CGP membuat saya mendapat inspirasi tentang penerapan KSE di kelas. Saya mendapat inspirasi berupa contoh-contoh yang dapat saya modifikasi dan adaptasi untuk diterapkan. Saya juga mendapat pembelajaran berupa mencoba praktik teknik STOP bersama fasilitator dan instruktur selama pembelajaran. Melalui proses pembelajaran ini, saya menyadari bahwa KSE sangat diperlukan oleh guru untuk melakukan berbagai kegiatan dan untuk mengoptimalkan potensi siswa.
Dengan mempelajari modul PSE, saya dapat mengenali perasaan, mengelola diri, memahami orang lain, membangun komunikasi, dan mengambil keputusan dengan lebih baik. Sehingga saya akan mampu melaksanakan pembelajaran, kegiatan sekolah, kegiatan di masyarakat, dan di keluarga dengan lebih baik, responsif, dan bertanggung jawab. Saya juga bisa membelajarkan siswa 5 KSE melalui integrasi dalam pembelajaran, membelajarkan secara eksplisit, mengubah kebijakan sekolah, dan mempengaruhi pola pikir siswa. Melalui penerapan KSE, saya yakin siswa akan menjadi orang yang mampu menghadapi masalah, menemukan solusi atas masalahnya, dan menjadi orang yang berkarakter baik.
Semoga bermanfaat.
Salam dan Bahagia.
Selasa, 15 Maret 2022
Koneksi Antar Materi - Pembelajaran Sosial dan Emosional
Visi Guru Penggerak sesuai dengan nilai dan peran yang
ingin dicapai yaitu Mewujuydkan Siswa Berkarakter Positif Sesuai Dengan Profil
Pelajar Pancasila, hal tersebut dapat diwujudkan melalui budaya positif dalam
ekosistem sekolah yang memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid hingga
tercapai merdeka belajar sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman dalam
filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan praktek pebelajaran yang berhamba
pada anak melalui pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial
emosional (PSE).
Pendidikan bukan hanya proses untuk memperoleh ilmu
pengetahuan namun bagaimana seorang guru dapat menuntun anak menemukan kodrat
jati diri, karakter dan budi pekerti. Untuk dapat menumbuhkan hal ini anak-anak
harus di latih dengan berbagai kegiatan, mereka terbiasa melakukan
ketrampilan-ketrampilan yang mereka butuhkan agar dapat bertahan dalam masalah
sekaligus memiliki kemampuan menemukan solusi untuk memecahkan masalah yang
mereka hadapi, dan tentu saja proses ini akan mengajarkan mereka menjadi
pribadi-pribadi yang bijaksana dan berbudi pekerti luhur. Pembelajaran Sosial
Emosional adalah pembelajaran berbasis keterampilan dalam mendidik yang
dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah dan memiliki kemampuan
memecahkan masalah.
Sebagai seorang guru, kita dihadapkan dengan beragam
masalah, baik itu masalah dari murid, rekan kerja, orang tua, atasan, atau pun
masalah yang timbul dari banyaknya tuntutan pekerjaan yang membuat guru menjadi
tertekan. Keadaan seperti ini tentunya akan mengganggu proses pembelajaran di
kelas. Kontrol emosi menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, berkesadaran penuh
(mindfulness) menjadi sesuatu yang harus dilakukan untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut. Dalam berkesadaran penuh, seorang guru dapat mengelola
konflik, mengelola stress, mengetahui cara berinteraksi dengan orang lain,
mengetahui cara untuk memahami diri sendiri, merasakan dan mengenali pikiran,
perasaan dan lingkungannya. Dengan memahami emosi diri maka akan membantu kita
untuk dapat merespon terhadap kondisi yang sedang dialami secara tepat,
merespon secara lebih baik. Hal ini tidak hanya akan berdampak pada wellbeing
diri tetapi dapat juga membantu menjadi role model bagi murid-muridnya.
Menurut Ki Hajar Dewantara, guru diibaratkan seorang petani
dan murid adalah benihnya. Seorang petani tugasnya adalah merawat dan menjaga
benih-benih itu, tentu saja benih yang tumbuh itu berbeda-beda dalam
perkembangannya dan juga berbeda jenisnya. Misalkan untuk merawat benih jagung
tentu saja akan berbeda dengan merawat benih padi. Seorang petani harus
memberikan perawatannya sesuai dengan kebutuhan benih-benih yang berbeda tadi
sampai semuanya berbuah. Begitu juga kita sebagai guru harus jeli dalam melihat
keberagaman kebutuhan siswa, ada yang lambat, sedang, dan cepat. Ada yang suka
agama, sains, seni, olahraga, dan sebagainya. Ada yang suka belajar dengan
cepat melalui penglihatan, pendengaran, atau kinestetik. Semua harus kita
akomodir dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran berdiferensiasi yag dilakukan oleh seorang
guru menjadi jawaban atas kebutuhan individu murid yang berbeda-beda
berdasarkan kodrat alam dan zamannya. Pembelajaran berdiferensiasi akan
memenuhi setiap kebutuhan masing-masing murid dengan memperhatikan faktor
kesiapan murid, minat/bakat, dan gaya belajar murid.
Dalam proses pembelajaran hendaknya guru juga memasukan
pembelajaran sosial-emosional. Apakah pembelajaran sosial-emosianal itu?
Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah hal yang sangat penting.
Pembelajaran ini berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk
dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga
untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang baik. Tidak bisa dipungkiri dalam
melaksanakan tugas sebagai guru, pasti banyak masalah yang kita hadapi. Baik
itu masalah dari murid, rekan kerja, orang tua, atasan, atau pun masalah yang
timbul dari banyaknya tuntutan pekerjaan yang membuat stress atau
tertekan.Keadaan seperti ini tentunya akan mengganggu proses pembelajaran di
kelas. Kontrol emosi menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, berkesadaran penuh
(mindfulness) menjadi sesuatu yang harus dilakukan untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut.
Pembelajaran Sosial Emosional adalah pembelajaran
berbasis keterampilan dalam mendidik yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan
dalam masalah dan memiliki kemampuan memecahkan masalah. Guru mendidik hati dan
jiwa si anak untuk menjadi lebih baik dan nyaman dalam menerima pembelajaran
yang diberikan guru, serta merasa terlindungi oleh guru dalam lingkungan
pembelajaran maupun lingkungan sekolah.
Kompetensi sosial-emosional adalah
:
1.
Kesadaran Diri – Pengenalan Emosi
2.
Pengelolaan Diri – Mengelola Emosi
dan Fokus
3.
Kesadaran Sosial – Keterampilan
Berempati
4.
Keterampilan Berhubungan Sosial –
Daya Lenting
5. Pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab
Tujuan Pembelajaran Sosial Emosional
1.
Memberikan Pemahaman ,penghayatan dan
Kemampuan untuk mengoelola emosi
2.
Menetapkan dan mencapai tujuan
positif
3.
Merasakan dan menunjukkan empati
kepada orang lain
4.
Membangun dan mempertahankan hubungan
yang positif
5. Membuat keputusan yang bertanggung jawab ( Responsible Decision Making )
Bagaimana Penerapannya ?
- Rutin (diluar waktu belajar sekolah). Waktu khusus di luar kegiatan akademik, misalnya kegiatan ektrakurikuler, perayaan hari-hari besar, pelatihan dan sebagainya.
- Terintegrasi dalam pembelajaran. Misalnya melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah topik pembelajaran.
- Protokol (sesuai dengan budaya atau aturan sekolah). Menjadi budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu.
Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional
(PSE) dapat dilakukan dengan 4 cara
yaitu Mengajarkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) secara spesifik dan eksplisit, Mengintegrasikan
Kompetensi Sosial Emosional (KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya
interaksi dengan murid, Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap
murid, dan Mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain dan
lingkungan.
Untuk dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional murid secara optimal, seorang guru harus menjalankan peran serta memiliki nilai kemandirian, reflektif, kolaboratif, dan inovatif serta berpihak pada murid. Melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dimana seorang guru mampu memetakan pembelajaran berdasarkan kebutuhan individu murid yang berbeda-beda berdasarkan kodrat alam dan zamannya. Mengoptimalkan kekuatan dan potensi untuk menerapkan Budaya Positif disekolah merupakan strategi efektif dalam membentuk nilai-nilai karakter anak. Jika Pembelajaran sosial dan emosional ini menjadi budaya positif di sekolah maka akan lebih mudah diterapkan karena menjadi sebuah budaya yang menjadi komitmen bersama dalam membangun generasi bangsa cerdas dan berkarakter mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
Sabtu, 12 Maret 2022
Jurnal Refleksi Minggu ke-14 Calon Guru Penggerak
12 Maret 2022
Pada minggu ke-14 ini, kegiatan Pendidikan Guru Penggerak sudah memasuki tahap demonstrasi kontekstual dari modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional.
Pembelajaran minggu ini masih pada modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional. Pembelajaran dilanjutkan pada ruang kolaborasi pengerjaan tugas dan presentasi. Dalam sesi ini, saya berkelompok dengan rekan CGP Bapak Muhamad Khaeri dan Ibu Ni Putu Sri Astitika. Dalam diskusi kelompok, kami mendiskusikan KSE apa yang sudah pernah diterapkan di sekolah. Selain itu, ide penerapan KSE seperti apa yang akan dilakukan di sekolah. Dalam sesi presentasi, tidak ada kendala yang dihadapi. Rekan CGP lain memberikan respons berupa apresiasi dan pertanyaan, yang kami tanggapi bersama. Saya juga memberikan apresiasi dan masukan kepada kelompok lain. Pembelajaran berikutnya adalah Refleksi Terbimbing, yaitu menjawab beberapa pertanyaan terkait PSE, yaitu apa yang menarik, apa hal penting yang dipelajari, dan ide yang akan diterapkan di kelas. Pada sesi Demonstrasi Kontekstual, CGP diminta membuat RPP yang terintegrasi dengan pembelajaran social emosional. RPP bisa diambil dari tugas RPP berdiferensiasi.
Saya sangat tertarik mempelajari Pembelajaran Sosial dan Emosional, cara penerapannya, dan bentuk-bentuk penerapannya di sekolah. PSE ini sangat penting bagi saya selaku guru, pribadi, dan rekan sejawat. Dengan menerapkan KSE, saya bisa mengelola perasaan, mengelola diri, berempati, menjalin hubungan dengan rekan sejawat, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab. Saya tertantang untuk menerapkan KSE dalam pembelajaran dan dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Awalnya saya merasa bingung, cemas, dan khawatir, tidak dapat memahami dan mengerjakan tugas. Tetapi dengan mengikuti pembelajaran dan dibantu oleh rekan CGP lain dan fasilitator, saya dapat memahami PSE dan mengerjakan tugas-tugas.
Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah hal baru bagi saya. Sebelumnya, saya seringkali tidak dapat mengelola emosi dengan baik. Respons yang saya berikan atas suatu situasi kadang bersifat reaktif, cepat, namun merugikan diri, dan siswa. Dengan mempelajari teknik STOP, saya dapat mengelola emosi, sehingga keputusan yang saya ambil dapat dipertanggungjawabkan. Ada banyak penerapan KSE yang dapat saya pelajari dari LMS dan dari rekan CGP lainnnya, yang sangat berguna bagi saya dan untuk membelajarkan murid.
Saya berusaha akan menerapkan KSE yang telah saya pelajari dalam pembelajaran di kelas dan kegiatan-kegiatan yang dirancang di sekolah. Saya akan terus mengembangkan keterampilan menerapkan KSE, melalui membaca, mencoba, diskusi, dan sharing dengan rekan guru lain. Membelajarkan KSE kepada murid akan membuat murid memiliki ketahanan menghadapi masalah, mampu memecahkan masalah, dan menjadi orang yang berkarakter baik.
Ruang Kolaborasi - Pembelajaran Sosial dan Emosional
Setelah mempelajari 5 Kompetensi Sosial-Emosional (KSE), selanjutnya berkolaborasi untuk menguraikan implementasi/penerapan pembelajaran 5 kompetensi sosial-emosional untuk murid sesuai dengan kelompok jenjang pendidikan masing-masing yang sudah pernah terapkan.
Berikut ini ide Penerapan 5 Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yang akan dilakukan pada jenjang SMP-SMA-SMK
KSE yang dikembangkan : Kesadaran Diri
Cara Penerapan : Rutin
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Bernafas dengan kesadaran penuh.
Yang Dilakukan Guru : Meminta murid untuk berhenti melakukan kegiatan apapun dan menarik nafas dalam-dalam dan kemudian melepaskannya perlahan-lahan.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Guru meminta murid merasakan kondisi tubuh, pikiran, dan perasaan setelah mereka melakukan kegiatan tersebut.
Tujuan : Bernafas dalam-dalam untuk meningkatkan suplai oksigen ke otak untuk menstimulasi saraf otak untuk memperoleh ketenangan.
Cara Penerapan : Terintegrasi Dalam Pembelajaran
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Identifikasi Perasaan
Yang Dilakukan Guru : Membacakan sebuah cerita yang perasaan tokohnya dideskripsikan dengan jelas dalam cerita tersebut, contoh cerita tokoh TESLA.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Minta murid-murid untuk menggambar ekspresi wajah tokoh-tokoh cerita sesaat setelah mendengarkan cerita tokoh TESLA.
Tujuan : Untuk mengetahui perasaan siswa terhadap mata pelajaran matematika.
Cara Penerapan : Protokol (Tata Tertib)
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Do’a bersama sebelum masuk kelas.
Yang Dilakukan Guru : Meminta salah seorang murid memimpin berdo’a sebelum mulai belajar.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Do’a yang dipimpin oleh salah seorang murid diikuti oleh seluruh murid.
Tujuan : Dengan membacakan do’a bersama akan memperkuat emosional murid dalam menghadapi KBM.
KSE yang dikembangkan : Pengelolaan Diri
Cara Penerapan : Rutin
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Masuk kelas tepat waktu.
Yang Dilakukan Guru : Guru mengawasi pada saat pembelajaran.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Kedisiplinan adalah kunci kesuksesan, tidak ada orang sukses tanpa sikap disiplin pada dirinya.
Tujuan : Dengan adanya disiplin diri masuk kelas tepat waktu akan membentuk budaya positif yang ada pada diri siswa.
Cara Penerapan : Terintegrasi Dalam Pembelajaran
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Who am I.
Yang Dilakukan Guru : Guru meminta siswa menuliskan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki di buku catatannya pada saat ice breaking.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Kita harus mampu mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri agar bisa mengatur emosi, pikiran, dan tingkah laku kita dalam berbagai situasi.
Tujuan : Untuk mengelola diri sendiri (manajemen diri).
Cara Penerapan : Protokol (Tata Tertib)
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Budaya 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun).
Yang Dilakukan Guru : Guru memberikan teladan kepada siswa tentang 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun).
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Membiasakan diri menerapkan 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) merupakan hal yang penting dalam membentuk karakter baik siswa sebagai budaya positif yang harus diterapkan di sekolah.
Tujuan : Membentuk budaya positif bagi siswa dalam membangun karakter yang baik.
KSE yang dikembangkan : Kesadaran Sosial
Cara Penerapan : Rutin
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Kunjungan siswa sakit atau tertimpa musibah/ kemalangan.
Yang Dilakukan Guru : Guru mengajak siswa untuk menjenguk temannya yang sakit atau terkena musibah/kemalangan.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Dengan adanya kunjungan sosial akan memberikan keringanan beban secara psikologis terhadap siswa yang sakit atau terkena musibah/kemalangan.
Tujuan : Tercipta hubungan sosial yang harmonis antara teman sekelas.
Cara Penerapan : Terintegrasi Dalam Pembelajaran
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Pembelajaran kooperatif.
Yang Dilakukan Guru : Guru membuat kelompok belajar siswa sesuai kebutuhannya.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Murid saling membantu temannya dalam memahami pelajaran, bila ada teman yang belum mengerti bisa dibantu dengan tutor sebaya.
Tujuan : Murid dapat menumbuhkan rasa empati antara satu dengan yang lainnya.
Cara Penerapan : Protokol (Tata Tertib)
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Pembiasaan mengucapkan terima kasih, minta tolong dan minta maaf.
Yang Dilakukan Guru : Meminta murid selalu mengucapkan kata terima kasih, meminta siswa menggunakan kata tolong bila perlu bantuan, meminta maaf pada orang lain jika melakukan kesalahan.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Sebagai makhluk sosial, kita harus membudayakan ucapan terima kasih, minta tolong, dan minta maaf agar terjalin hubungan yang harmonis antar semua warga sekolah.
Tujuan : Terjalin kerukunan antar siswa dan antara siswa dengan guru serta semua warga sekolah.
KSE yang dikembangkan : Keterampilan Relasi
Cara Penerapan : Rutin
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : 3 S (Senyum, Salam, Sapa).
Yang Dilakukan Guru : Guru menunggu Murid di depan pintu gerbang sekolah dengan mengucapkan salam, tersenyum dan menyapa murid dengan ramah.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Guru menyapa murid dengan ucapan salam dengan ramah dan sopan untuk menimbulkan budaya positif sekolah.
Tujuan : Murid mampu menumbuhkan kemampuan hubungan sosial dengan semua warga sekolah.
Cara Penerapan : Terintegrasi Dalam Pembelajaran
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Kegiatan role play.
Yang Dilakukan Guru : Guru mempersilahkan murid yang duduk berpasangan untuk bergantian saling bercerita terkait pengalaman yang menyenangkan.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Guru meminta murid untuk mendengarkan cerita temannya dengan seksama dan penuh kesadaran serta tidak memotong pembicaraan teman saat bercerita.
Tujuan : Murid mampu merefleksikan apa yang murid dengarkan dan rasa saat bercerita maupun saat mendengarkan cerita temannya.
Cara Penerapan : Protokol (Tata Tertib)
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Gotong Royong dalam kebersihan lingkungan.
Yang Dilakukan Guru : Guru mengajak semua murid untuk berkolaborasi dan bergotong royong dalam menjaga lingkungan kelas maupun lingkungan sekolah.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Melaksanakan kegiatan gotong royong secara bersama-sama dalam membersihkan lingkungan kelas atau sekolah.
Tujuan : Menumbuhkan murid untuk bersikap saling bekerja sama dalam memelihara dan menjaga kebersihan lingkungan kelas dan sekolah.
KSE yang dikembangkan : Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab
Cara Penerapan : Rutin
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Cleaning Up (Perpustakaan).
Yang Dilakukan Guru : Guru meminta kepada murid setelah membaca buku di perpustakaan agar dikembalikan pada tempatnya.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Guru meminta murid untuk selalu membereskan apa yang telah mereka lakukan, hal ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Tujuan : Menumbuhkan rasa tanggungjawab.
Cara Penerapan : Terintegrasi Dalam Pembelajaran
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Penyelesaian soal HOTs dan kontekstual menggunakan Teknik POOCH (problem, option, outcomes, choicess) dengan langkah-langkah metode ilmiah
Yang Dilakukan Guru : Guru memberikan beberapa masalah kimia yang kontekstual dan membutuhkan keterampilan mengambil keputusan (HOTs).
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Guru meminta murid berlatih memecahkan masalah dengan langkah-langkah metode ilmiah.
Tujuan : Murid mampu dan terbiasa untuk memecahkan masalah yang berupa soal HOTs dan kontekstual.
Cara Penerapan : Protokol (Tata Tertib)
Bentuk Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional : Pendekatan personal.
Yang Dilakukan Guru : Jika ada siswa yang melanggar kesepakatan kelas guru memanggil siswa tersebut ke ruang BK diluar jam pelajaran untuk melakukan pendekatan personal melalui kesepakatan dengan siswa sebelumnya.
Hal penting yang harus disampaikan kepada murid : Setelah bertemu guru bertanya alasannya dan ingin memahami dan memberikan solusi sebagai konsekuensi, guru juga memberikan nasihat dan motivasi agar tidak mengulangi lagi.
Tujuan : Membiasakan siswa menerima konsekuensi dan bertanggung jawab dan membangun motivasi agar lebih baik lagi.
Sabtu, 05 Maret 2022
Jurnal Refleksi Minggu ke-13 Calon Guru Penggerak
05 Maret 2022
Jurnal Refleksi kali ini menggunakan model 4F ⟮Facts, Feelings, Findings, Future).
Facts
Minggu ini, pembelajaran dimulai dengan eksplorasi konsep pada topik Pembelajaran Sosial dan Emosional. Saya memulai dengan mengamati video tentang pembelajaran sosial-emosional, mindfulness, cara kerja otak, teknik STOP, membaca bahan bacaan tentang kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Saya juga mempraktikkan teknik STOP. Dalam sesi diskusi asinkron, saya membedah lima kasus yang disajikan, memberikan analisis dan kemungkinan-kemungkinan, kemudian mempostingnya dalam forum diskusi yang telah disediakan pada LMS untuk didiskusikan bersama rekan CGP lainnya. Dalam diskusi ini, saya mendapat berbagai masukan dan penguatan, serta memberikan masukan dan apresiasi kepada rekan lain. Hambatan yang saya temui dalam pembelajaran ini adalah saya terkendala waktu mengerjakan, karena bertepatan dengan persiapan Hari Suci Nyepi. Saya menyempatkan diri mengerjakan tugas di sela-sela persiapan upacara, kemudian dilanjutkan mengerjakan secara offline dan diunggah di LMS.
Feelings
Dalam mempelajari Pembelajaran Sosial dan Emosional, saya merasa tertarik, antusias, dan ingin tahu lebih dalam. Materi ini sangat aplikatif, berguna dalam menghadapi berbagai masalah dan tekanan, seperti menghadapi siswa, hubungan dengan rekan guru dan atasan, hubungan dengan keluarga, maupun pergaulan di masyarakat. Saya merasa perlu untuk menerapkan kesadaran penuh dalam setiap kegiatan saya, perlu mengelola diri dengan lebih baik, meningkatkan kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan belajar mengambil keputusan dengan bertangungjawab.
Findings
Selama ini saya menjalani profesi sebagai guru, ternyata saya belum sepenuhnya menggunakan kesadaran penuh dalam melaksanakan kegiatan maupun menghadapi masalah. Saya seringkali reaktif terhadap suatu situasi. Proses pembelajaran selama seminggu ini memberikan banyak pengetahuan mengenai kesadaran penuh, mengelola emosi, mengelola diri, empati, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Kompetensi Sosial dan Emosional ini sangat penting dalam menjalankan peran saya sebagai guru.
Future
Pembelajaran yang saya dapatkan mengenai Kompetensi Sosial dan Emosional ini saya rasa belum cukup, masih perlu diperdalam melalui diskusi, mengamati praktik baik rekan guru, dan penjelasan-penjelasan dari fasilitator. Dengan mempelajari lebih dalam tentang Kompetensi Sosial dan Emosional dan praktiknya di kelas, saya akan lebih siap menghadapi berbagai situasi yang perlu respon yang tepat, dapat menjalin hubungan baik dengan siswa, rekan guru, dan kepala sekolah, dapat bekerja sama dalam menjalankan tugas secara kolaboratif, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Semoga Bermanfaat.
Salam dan Bahagia.




.png)
.png)

