Seputar Pembelajaran Matematika dan Pemanfaatan IT

SELAMAT DATANG DI WEBSITE POTRET MATEMATIKA

Tempat Belajar Matematika dan Teknologi Informasi.

SELAMAT DATANG DI WEBSITE POTRET MATEMATIKA

Berbagi Tentang Program Pendidikan Guru Penggerak.

SELAMAT DATANG DI WEBSITE POTRET MATEMATIKA

Pemanfaatan Website Rumah Belajar Kemdikbudristek untuk Pembelajaran Inovatif.

SELAMAT DATANG DI WEBSITE POTRET MATEMATIKA

Tutorial Aplikasi Google, Microsoft, dan Video Pembelajaran ada disini.

SELAMAT DATANG DI WEBSITE POTRET MATEMATIKA

Laporan Penelitian, PTK, R n D, Best Practice, Jurnal, dan Prosiding.

Minggu, 14 November 2021

Jurnal Refleksi Minggu Ke-4 Calon Guru Penggerak

14 November 2021

Pada minggu keempat ini, saya membuat Jurnal Refleksi dengan menggunakan Model Segitiga Refleksi.

Jurnal Refleksi Minggu Keempat Calon Guru Penggerak yang saya susun adalah sebagai berikut.



Share:

Kamis, 11 November 2021

Demonstrasi Kontekstual - Nilai dan Peran Guru Penggerak

 


Nilai diri seorang Guru Penggerak akan mendukung seorang Guru Penggerak dalam melaksanakan peran-peran Guru Penggerak, serta mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Nilai diri merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan standar pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Melihat peranan nilai sangat penting dalam kehidupan tingkah laku sehari-hari, maka rasanya penting bagi seorang Guru Penggerak untuk bisa memahami dan menjiwai nilai-nilai dari seorang Guru Penggerak.

Kelima nilai dari Guru Penggerak adalah: Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid.

Nilai ini sendiri berkaitan erat dengan peran Guru Penggerak. Nilai ini yang diharapkan terus tumbuh dan dilestarikan dalam diri seorang Guru Penggerak. Kelima ini saling mendukung satu dengan lainnya, dan tentunya diharapkan menjadi pedoman berperilaku untuk seorang Guru Penggerak.




Share:

Sabtu, 06 November 2021

Jurnal Refleksi Minggu Ke-3 Calon Guru Penggerak

 


6 November 2021

Pada minggu ketiga ini, saya membuat Jurnal Refleksi dengan menggunakan Model Enam Topi (Six Thinking Hats). Model Six Thinking Hats diperkenalkan oleh Edward de Bono pada tahun 1985.

Model ini melatih kita melihat satu topik dari berbagai sudut pandang, yang disimbolkan dengan enam warna topi. Setiap topi mewakili cara berpikir yang berbeda; beberapa di antaranya terkadang mendominasi cara kita berpikir. Karena itu, dengan semakin sering melatih keenam “topi”, kita akan dapat mengambil refleksi yang lebih mendalam. Keenam topi tersebut berikut penggunaannya dalam jurnal refleksi adalah:


  1. Topi putih: tuliskan informasi sebanyak-banyaknya terkait pengalaman yang terjadi. Informasi ini harus berupa fakta; bukan opini.
  2. Topi merah: gambarkan perasaan Anda terkait dengan topik yang sedang dibahas, misalnya perasaan saat mempelajari materi baru atau saat menjalankan diskusi kelompok.
  3. Topi kuning: tuliskan hal-hal positif yang terkait dengan topik tersebut.
  4. Topi hitam: tuliskan kendala, hambatan, atau risiko dari tindakan/peristiwa yang sedang dibahas.
  5. Topi hijau: jabarkan ide-ide yang muncul setelah mengalami peristiwa tersebut.
  6. Topi biru: tarik kesimpulan dari peristiwa yang terjadi, atau ambil keputusan setelah mempertimbangkan kelima sudut pandang lainnya. Bandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Jurnal Refleksi Minggu Ketiga Calon Guru Penggerak yang saya susun adalah sebagai berikut.

Pada minggu ini masih melanjutkan membahas tentang refleksi pemikiran KI Hadjar Dewantara yaitu kesimpulan dan refleksi pemikiran Ki Hadjar Dewantara serta aksi nyata yang telah dilakukan. Beberapa aksi nyata penerapan filosofi Ki Hadjar Dewantara telah saya lakukan yaitu 1) Menciptakan lingkungan belajar yang mendukung proses berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa; 2) Memfasilitasi sarana belajar yang memungkinkan siswa dapat melakukan eksplorasi kemampuan secara maksimal; dan 3) Bermain sambil belajar. Setelah aksi nyata telah dilakukan, selanjutnya beralih ke topik nilai dan peran guru penggerak. Pada topik ini, saya mempelajari teori tentang nilai dan peran guru penggerak serta membuat trapesium usia yang dikaitkan dengan nilai dan peran guru penggerak.

Dalam melakukan beberapa aksi nyata penerapan filosofi Ki Hadjar Dewantara, bermain sambil belajar yang saya berikan kepada murid saya menyadarkan saya bahwa anak-anak lebih menikmati kegiatan tersebut sehingga mereka merasa tidak terbebani mengikuti pembelajaran. Saya sangat menikmati proses pembelajaran yang sedang saya berikan tersebut. Setelah aksi nyata telah dilakukan, selanjutnya beralih ke topik nilai dan peran guru penggerak. Nilai dan peran guru penggerak serta membuat trapesium usia membuat saya menjadi tahu bahwa betapa pentingnya memberikan murid pembelajaran yang bermakna positif sehingga sampai kapanpun akan selalu diingat dan menjadi inspirasi dalam menjalani kehidupan ini.
Hal positif yang telah saya pelajari dari topik minggu ini yaitu :

Berdasarkan filosofi pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara, kita harus memandang siswa kita sebagai individu yang berbeda dan unik. Setiap siswa punya gaya belajar dan potensinya masing-masing, sehingga kita sebagai guru harus melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan kondrat anak tersebut. Artinya dalam melaksanakan pembelajaran guru harus selalu memperhatikan perbedaan individu dan juga melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Nilai Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, dan Berpihak pada Murid menjadi nilai yang harus saya miliki untuk dapat mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Disamping itu, kompetensi guru penggerak yaitu mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, dan memimpin pengembangan sekolah merupakan 4 kompetensi yang harus dimiliki dalam menunjang 5 peran guru penggerak dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
Untuk melaksanakan aksi nyata penerapan filosofi Ki Hadjar Dewantara, diperlukan perencanaan dan inovasi dalam merancang kegiatan pembelajaran yang menerapkan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Tidak hanya itu, dukungan dari seluruh aspek juga sangat menentukan. Yang menjadi kendala saya dalam menerapkan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah ketersediaan fasilitas sarana pembelajaran yang sangat minim di sekolah saya. Namun saya tidak menjadikan kekurangan tersebut sebagai hambatan dalam menerapkan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Karena banyak hal yang bisa kita lakukan dengan memanfaatkan apa yang ada.
Setelah melaksanakan aksi nyata penerapan filosofi Ki Hadjar Dewantara, saya menjadi memiliki konsep desain pembelajaran yang lebih menarik bagi murid saya untuk saya berikan pada pembelajaran berikutnya. Melalui penerapan nilai dan kompetensi guru penggerak yang telah saya pelajari dan saya miliki membuat saya merasa siap untuk menerapkannya dalam mewujudkan profil pelajar pancasila.
Setelah melakukan aksi nyata, mempelajari tentang nilai dan peran guru penggerak, serta menghadapi tantangan dan kendala, saya merefleksi diri untuk menemukan apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Adapun langkah yang saya ambil adalah menanamkan nilai dan peran guru penggerak pada diri saya sehingga dengan nilai dan peran seorang guru penggerak saya dapat mewujudkan profil pelajar pancasila.
Share:

Mulai Dari Diri - Nilai dan Peran Guru Penggerak


Pada kegiatan ini, pembelajaran dimulai dengan membuat diagram trapesium usia dan menjawab beberapa pertanyaan. Agar mendapatkan manfaat yang maksimal dari kegiatan ini, hal yang perlu diperhatikan ketika menjawab pertanyaan nanti adalah kejujuran dalam memberikan jawaban. Tidak mengapa jika memang tidak ada atau Anda tidak tahu. Tidak ada jawaban benar ataupun salah. Apa yang menjadi pertanyaan hanyalah upaya untuk membantu menggali pengalaman serta nilai diri.

Berikut ini Trapesium Usia saya.



Semoga Bermanfaat.





Share:

Selasa, 02 November 2021

Aksi Nyata - Penerapan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara di Kelas dan Sekolah



Sebagai tahapan terakhir dari siklus pembelajaran MERRDEKA, Aksi Nyata memberikan ruang bagi saya menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam satu rangkaian modul 1.1. Aksi Nyata dimaksudkan sebagai proses pengembangan profesionalisme berkelanjutan, di mana ia dilihat sebagai kesatuan antara proses pembelajaran dan implementasi. Dengan demikian, aksi nyata perlu dijalankan secara terus menerus, bahkan hingga Program Pendidikan Guru Penggerak telah saya selesaikan. Dalam  modul ini, Aksi Nyata saya merupakan perwujudan dari perubahan konkret dalam proses pembelajaran sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan konteks sosial dan budaya di daerah saya.

Untuk mendukung pengembangan berkelanjutan, sepanjang proses penerapan ini saya dapat melakukan refleksi, salah satunya dengan menulis jurnal refleksi. Jurnal refleksi yang ditulis secara rutin merupakan media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah dilakukan.

Berikut ini adalah video Aksi Nyata - Penerapan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara di Kelas dan Sekolah yang saya buat.



Share:

Sabtu, 30 Oktober 2021

Jurnal Refleksi Minggu Ke-2 Calon Guru Penggerak

 


31 Oktober 2021

Kegiatan minggu ini masih mendalami modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara. Pada minggu kedua ini saya mengikuti kegiatan Ruang Kolaborasi-Unggah Kerangka Pembelajaran sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam LMS. Dalam kegiatan ini, saya menyempurnakan hasil presentasi Kerangka Pembelajaran sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara kemudian mengunggahnya pada LMS. Keesokan harinya adalah kegiatan Refleksi Terbimbing-Presentasi Kerangka Filosofis 'Merdeka Belajar', dengan menjawab empat pertanyaan pemantik yang jawabannya dibuat dalam bentuk narasi sesuai pengalaman belajar, pemikiran, dan perpektif ke depan. Pembelajaran berikutnya dalam alur MERRDEKA adalah Demonstrasi Kontekstual - Pemikiran Filosofis Ki Hadjar Dewantara dalam Karya. Dalam demonstrasi kontekstual ini saya membuat poster tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam implementasinya di kelas. Pembelajaran terakhir minggu ini adalah Elaborasi Pemahaman, yaitu Konferensi ‘Pemikiran Ki Hadjar Dewantara’ oleh Perguruan Taman Siswa dan sekolah SPK DYATMIKA Bali yang sudah menerapkan Merdeka Belajar dan beberapa kurikulum internasional melalui pertemuan virtual. Untuk menyimpulkan dan merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya membuat sebuah artikel pada blog pribadi saya.

Saya sangat antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran minggu ini, semua tugas dapat terselesaikan tepat waktu meskipun dalam kondisi jadwal kegiatan lainnya yang cukup padat. Dalam sesi sinkron, saya menjadi lebih bersemangat karena ada pemaparan materi dari narasumber dan diskusi. Saya merasa belum mampu menerapkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara secara sempurna dalam pembelajaran di kelas. 

Setelah menghadapi tantangan dan kendala, saya  merefleksi diri untuk menemukan cara mengatasinya. Adapun langkah yang saya ambil adalah dengan manajeman waktu dan menggunakan skala prioritas, saya dapat mengerjakan semua tugas tepat waktu. Saya juga telah menuangkan semua hasil belajar saya pada modul 1.1 ini ke dalam blog pribadi saya.


Share:

Jurnal Refleksi Minggu Ke-1 Calon Guru Penggerak

 


24 Oktober 2021

Minggu ini merupakan minggu perdana saya mengikuti PGP. Pembelajaran yang saya ikuti melalui LMS pada PGP ini sangat padat. Kegiatan pembelajaran menggunakan pola MERRDEKA. Pembelajaran dilaksanakan secara mandiri sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Disamping itu, pembelajaran juga dilakukan secara kolaboratif bersama anggota CGP yang lain dengan dibimbing oleh seorang fasilitator. Dengan sangat baik fasilitator menyampaikan penjelasan. Hal baik yang saya dapatkan dari pembelajaran minggu ini adalah membuka wawasan dan pengalaman tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Selain itu, saya juga dapat menjadi seorang pendidik yang siap mendesain kerangka merdeka belajar dalam rangka membentuk profil pelajar pancasila. Hal tersebut merupakan tugas yang sangat berat, namun setelah mengikuti pembelajaran minggu ini, saya berharap dapat membuka wawasan dan pemikiran saya untuk dapat menyusun strategi dalam mencapai tujuan tersebut.

Secara umum saya dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran melalui LMS ini, walaupun sempat kesulitan dalam mengumpulkan tugas tepat waktu karena kendala manajemen waktu dalam mengerjakan tugas-tugas lainnya. Sejauh ini semua berjalan lancar, walaupun ditemukan beberapa kendala kecil dalam pendidikan guru penggerak melalui LMS ini. Kendala tersebut terutama adalah kendala berupa teknis. Gangguan jaringan sempatmenjadi kendala terutama saat melakukan pertemuan virtual melalui Google Meet karena terjadi pemadaman listrik. Untuk mengatasi hal tersebut saya menyiapkan perangkat cadangan. Dengan demikian semua dapat berjalan lancar tanpa mengalami gangguan jaringan. Sedangkan terkait teknis dalam pengoperasian Google Meet tersebut saya sudah terbiasa menggunakannya. Hal ini dikarenakan saya sudah tidak asing dengan aplikasi ini dan sering menggunakan dalam pembelajaran di sekolah pada masa pandemi Covid-19 ini. Kendala lain adalah adanya benturan jadwal kegiatan ini dengan tugas pokok di sekolah dan saya sedang melanjutkan studi S2. Hal ini terkait deadline pengumpulan tugas berbenturan dengan kesibukan di sekolah dan kegiatan perkuliahan. Di tengah kesibukan sebagai guru dengan tugas tambahan wakasek kurikulum di sekolah dan sebagai mahasiswa di kampus, saya harus pandai membagi waktu. Saya harus bisa membuat skala prioritas dalam hal ini. Artinya menyelesaikan tugas tersebut sesuai dengan tingkat urgensinya. Dengan demikian, bukan tidak mungkin, salah satu dari tugas tersebut akan terkorbankan ketika harus memiliki deadline yang sama. Akan tetapi dengan mengomunikasikan hal ini dengan fasilitator, semua dapat diselesaikan dengan baik. 

Selama mengikuti pembelajaran ini saya merasa bersemangat dan bangga menjadi bagian dari program guru penggerak. Tidak semua orang memililki kesempatan menjadi guru penggerak. Dengan demikian saya mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran ini dengan semangat dan penuh konsentrasi. Jika satu rangkaian saja terlewati, seakan-akan terasa kita sudah tertinggal jauh dengan peserta yang lain. Walaupun pembelajarannya sangat padat, namun saya terus berusaha mengerjakan seluruh tagihan-tagihan yang diberikan.   Pembelajaran melalui LMS berbasis Moodle ini memang bukan sesuatu yang baru, karena saya sudah mengenal LMS ini sejak tahun 2015 saat mengikuti diklat online pertama kali. Semoga semangat dan perjuangan ini akan tetap terjaga sampai akhir program.
Share:

TOKO ONLINE "POTRET MATEMATIKA"

CHANNEL YOUTUBE

RUBEMA SMP

STATISTIK

Chat Me!

Followers

ADMIN : WAYAN SUBADRE

ADMIN : WAYAN SUBADRE

TUTORIAL SKP DAN DUPAK

TUTORIAL AKUN BELAJAR.ID

Blog Archive

VIDEO DOKUMENTASI

TUTORIAL GOOGLE CLASSROOM

TIPS & TRIK CPNS & PPPK