Jurnal Refleksi kali ini menggunakan Model DEAL (Description, Examination and Articulation of Learning)
Minggu keenam pada LMS disajikan materi tentang visi guru penggerak. Berikut point-point yang saya peroleh dari bacaan, video, hasil diskusi kelompok, dan kegiatan presentasi pada ruang kolaborasi Modul 1.3.
Pada Tahap Mulai Dari Diri, saya merumuskan visi pribadi mengenai murid dan bagaimana sekolah yang berpihak pada murid di masa depan.
Pada Tahap Eksplorasi Konsep, saya memahami pentingnya melakukan manajemen perubahan dengan pola pikir positif melalui pendekatan inkuiri apresiatif dan menghubungkan visi guru penggerak dengan pendekatan inkuiri apresiatif dalam membantu pertumbuhan murid di masa depan.
Pada Tahap Ruang Kolaborasi, saya mengidentifikasi kekuatan dari dalam diri dan luar diri yang dapat mendukung terwujudnya visi pribadi untuk menumbuhkan murid di masa depan.
Pada Tahap Refleksi Terbimbing, saya melakukan refleksi proses pembelajaran yang telah dilalui dan mengambil pembelajaran dari proses kolaborasi dan hasil diskusi yang telah dilakukan.
Berikut ini Visi Guru Penggerak dan Pemetaan Kekuatan yang telah saya lakukan.
Berdasarkan deskripsi di atas, pembelajaran minggu ini dapat saya ikuti sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu merumuskan visi guru penggerak, melakukan identifikasi dan pemetaan kekuatan, hingga melakukan refleksi terbimbing tentang pembelajaran pada topik Visi Guru Penggerak.
Untuk memahami lebih mendalam tentang Visi Guru Penggerak dan mewujudkan Visi Guru Penggerak, saya akan melakukan demonstrasi kontekstual untuk selanjutnya dapat melakukan aksi nyata tentang Visi Guru Penggerak.
Berdasarkan pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA), aktor-aktor lain yang juga turut berperan adalah aset atau sumber kekuatan yang dapat kita manfaatkan untuk menggapai mimpi yang kita inginkan tentang murid kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membuat pemetaan kekuatan. Pemetaan kekuatan ini dilakukan untuk mengetahui siapa yang dapat ikut berperan mendukung kita dan bentuk dukungan seperti apa yang bisa dimanfaatkan.
Pemetaan kekuatan ini tidak dimaksudkan agar kita bergantung pada banyaknya aktor di lingkungan kita untuk mewujudkan mimpi pribadi kita mengenai murid. Pada saat membuat pemetaan kekuatan, aktor penting pertama yang perlu dipertimbangkan adalah diri sendiri dan murid. Bayangkanlah diri kita sebagai aktor kunci dan aset pertama yang kita miliki dalam mewujudkan mimpi. Kemudian, bayangkanlah juga murid sebagai aset utama dan harta yang kita miliki karena kita sedang bermimpi tentang mereka.
Berikut ini hasil pemetaan kekuatan yang saya lakukan.
Minggu kelima pada LMS disajikan materi tentang visi guru penggerak. Banyak informasi yang saya petik dari bacaan dan video yang disajikan. Berikut point-point yang saya peroleh Dari bacaan dan video modul 1.2 dan 1.3 diantaranya:
Pada kegiatan elaborasi pemahaman, koneksi antar materi, dan aksi nyata tentang nilai dan peran guru penggerak memberi pemahaman untuk saya dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila melalui penerapan nilai dan peran guru penggerak.
Menentukan visi menjadi hal sangat penting bagi seorang guru penggerak. Visi tersebut merupakan acuan bagi guru penggerak dalam menciptakan transformasi pendidikan di sekolah. Visi diperoleh dari mimpi, imajinasi dan harafan di masa akan datang seorang guru penggerak untuk merubah tatanan masa depan menuju ke arah yang lebih baik. Visi tersebut terkadang muncul dari kelemahan-kelemahan yang ada. Kelemahan itu bukanlah suatu kehinaan akan tetapi kekuatan yang akan menyelaraskan hati dan langkah untuk melakukan perubahan dan menciptakan suatu system yang ideal yang sesuai harapan.
Appreciative Inquiry ini berguna dalam membuat visi organisasi dan menemukan harapan yang paling urgen yang harus segera direalisasikan demi kemajuan organisasi tersebut. Appreciative Inquiry merupakan pendekatancyang digunakan dalam mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk melakukan perubahan positif dengan menfokuskan pada pengalaman pribadi seperti raihan prestasi dan harapan-harapan yang ingin dicapai di masa yang akan datang. Dalam konteks pendidikan, Appreciative Inquiry antara lain digunakan untuk penggerak perubahan budaya, pengambangan diri, coaching dan monitoring.
Informasi di atas sangat relevan dan penting diberikan kepada calon guru penggerak. Informasi tersebut bisa dijadikan sebagai pengetahuan calon guru penggerak dalam mengelola suatu organisasi.
Pemimpin itu harus memiliki visi. Visi tersebut harus disegarkan sehingga tetap sesuai dan sepadan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan. Karena itu visi dalam konteks ini merupakan atribut utama seorang pemimpin. Tugas dan tanggung jawab pimpinan untuk melahirkan, memelihara, mengembangkan, menerapkan, dan menyegarkan visi agar tetap memiliki kemampuan untuk memberikan respons yang tepat dan cepat terhadap berbagai permasalahan dan tuntutan yang dihadapi organisasi.
Saya merasa tergugah untuk melakukan perubahan. Perubahan yang akan saya lakukan adalah merubah cara, pendekatan, strategi dan pola berpikir tentang proses pembelajaran yang biasa dilakukan. Saya akan mencoba untuk menumbuhkan kreativitas dan kemandirian murid dalam pelajaran matematika dengan melakukan proses pembelajaran berbasis proyek dan Real Mathematic Education atau Contextual Teaching Learning. Sehingga murid akan lebih merasakan kebermaknaan matematika.
Dalam Pembelajaran ini kita akan menggali pemahaman kita atas visi. Pada masa kecil, kita pernah ditanya mengenai cita-cita. Pertanyaan yang sering diajukan adalah, “Mau jadi apa jika sudah besar?”. Pada masa itu, sebagian besar dari kita dapat menjawab dengan percaya diri. Kita menjawab dengan bersemangat tentang profesi yang ingin kita geluti di masa depan. Padahal, kita belum tahu apakah hal itu dapat dicapai atau tidak. Seperti itulah visi. Visi itu bagaikan membayangkan sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga dapat diibaratkan sebagai bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah untuk mencapai tujuannya. Visi adalah sesuatu yang belum terjadi saat ini, namun kita yakini akan terwujud di masa depan.
Saat ini kita akan mencoba membayangkan tanggung jawab kita sebagai seorang guru, terlebih dengan peran sebagai guru penggerak. Kita memiliki peran untuk dapat mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, dan memimpin pengembangan sekolah. Peran ini memunculkan harapan bahwa ada hal besar yang kita harap dapat kita capai di masa depan nanti. Hal besar yang kita harapkan di masa depan inilah yang kita sebut sebagai visi.
Ketika membayangkan tentang visi kita sebagai seorang guru, kita harus melibatkan murid di dalam visi tersebut. Mari kita mengingat lagi bahwa sebagai seorang guru, mendidik bukan sekedar pekerjaan administrasi. Target pekerjaan kita bukan sebuah dokumen kertas saja. Mendidik juga tidak hanya berbicara tentang waktu sekarang. Sasaran pekerjaan kita adalah seorang manusia. Target pekerjaan kita adalah pertumbuhan seorang manusia. Sedangkan, hasil pekerjaan kita baru akan terlihat saat manusia ini berkarya di masa depan nanti. Oleh karena itu, memiliki visi tentang pertumbuhan murid menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru. Murid seperti apa yang kita harapkan terwujud pada mereka di masa depan. Visi mengenai murid inilah yang nantinya menjadi bintang penunjuk arah bagi guru dalam menentukan strategi pengajaran.
Berikut ini Visi Guru Penggerak yang saya rumuskan.
Dalam usaha mewujudkan Profil Pelajar Pancasila ini, tentunya perlu peran guru penggerak untuk menuntun anak serta menumbuhkan berbagai karakter/nilai yang dijabarkan. Peran guru penggerak yang pertama dalam terkait dengan Profil Pelajar Pancasila ini adalah mengenali dan menjalankan profil ini terlebih dahulu. Ketika seorang pendidik mencoba menjalankan profil ini, maka akan lebih mudah bagi murid untuk mengikutinya. Keteladanan seorang guru dalam menjalankan ini pastinya akan dilihat dan kemudian dipelajari oleh para murid.
Untuk mendukung tercapainya Profil Pelajar Pancasila, setiap guru perlu menanamkan nilai-nilai dan pola pikir sebagai penuntun atau pamong. Nilai-nilai ini bisa berkembang jika seorang guru penggerak mengaktifkan otak luhurnya agar bisa berpikir strategis dan kreatif dalam menjalankan peran sebagai guru penggerak.
Untuk bisa mewujudkan Profil Pelajar Pancasila tersebut, dibutuhkan guru yang terampil dan berkompeten sehingga mampu berkontribusi secara aktif sesuai mewujudkan profil tersebut. Peran dari dari seorang guru tentunya akan lebih maksimal jika memiliki keterampilan ataupun kompetensi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Pada artikel kali ini, saya akan berbagi tentang aksi nyata nilai dan peran guru penggerak dengan tema "MANDIRI BERINOVASI DALAM MEWUJUDKAN MERDEKA BELAJAR". Aksi nyata ini saya lakukan setelah mempelajari tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak, mulai dari diri, eksplorasi konsep, ruang kolaborasi, refleksi terbimbing, demonstrasi kontekstual, elaborasi pemahaman, dan koneksi antar materi.
Perasaan saya sangat senang dan bangga sekali menjadi bagian dari Guru Penggerak ini. Banyak ide dan praktik baik yang bisa dilakukan. Salah satu yang saya lakukan dalam mengaplikasikan nilai diri seorang guru penggerak adalah melakukan pengembangan diri dan menciptakan inovasi pembelajaran berupa media pembelajaran interaktif secara mandiri dalam memberi ruang kepada murid untuk melakukan eksplorasi diri pada proses pembelajaran.
Berikut ini adalah kegiatan pengembangan diri dan inovasi yang telah saya lakukan dalam mewujudkan aksi nyata tentang nilai dan peran guru penggerak.
Adapun media interaktif yang saya ciptakan adalah Media Interaktif Matematika (Bangun Ruang Sisi Lengkung) berikut ini.
Melalui pembelajaran menggunakan media interaktif ini, murid secara maksimal dapat melakukan eksplorasi kemampuannya dan merdeka belajar dapat terwujud.